Muncul Spanduk 'Waspada Reformasi Jilid 2', Ketua Sapma Kota Banjar: Jangan Jadi Framing Negatif untuk Bungkam Mahasiswa
BANJAR – Kawasan strategis Alun-Alun Kota Banjar mendadak riuh menjadi sorotan publik.
Hal ini dipicu oleh munculnya sebuah spanduk bernada peringatan dengan pesan mencolok: 'WASPADA AJAKAN DAN NARASI REFORMASI JILID 2. Jangan Sampai Mahasiswa dan Masyarakat Menjadi Alat Kepentingan Pihak Tertentu. PERIKSA FAKTA SEBELUM BERTINDAK'.
Keberadaan spanduk misterius tanpa identitas pemasang yang jelas ini langsung memantik respons kritis dari organisasi kepemudaan.
Ketua Satuan Pelajar dan Mahasiswa (Sapma) Kota Banjar, Irwan Herwanto secara tegas angkat bicara menanggapi fenomena tersebut.
Menurut Irwan, perubahan dan evaluasi tata kelola negara adalah hal yang lumrah dalam iklim demokrasi, bukan sesuatu yang menakutkan seperti yang digambarkan dalam spanduk tersebut.
"Demokrasi akan mati jika kritik dianggap sebagai ancaman. Narasi spanduk tersebut secara halus mencoba mendiskreditkan gerakan moral mahasiswa seolah-olah selalu ditunggangi oleh kepentingan politik praktis," ujar Irwan Herwanto kepada TIMES Indonesia, Senin (29/6/2026).
Tantang Cek Legalitas Spanduk 'Gelap'
Menariknya, di dalam spanduk tersebut tercantum kalimat 'PERIKSA FAKTA SEBELUM BERTINDAK'.
Menanggapi hal itu, Irwan balik menyatakan bahwa langkah periksa fakta pertama yang paling krusial dilakukan justru adalah memeriksa apakah spanduk yang terpasang di Alun-Alun tersebut memiliki izin resmi atau tidak.
Mengingat spanduk tersebut terkesan 'gelap' tanpa identitas organisasi atau penanggung jawab yang jelas, Irwan menilai keberadaannya cenderung bersifat provokatif dan dapat memecah belah publik di tengah kondisi sosial masyarakat Kota Banjar yang selama ini sudah kondusif.
4 Poin Penting Sikap Sapma Kota Banjar
Sebagai representasi elemen pemuda dan mahasiswa, Irwan Herwanto memaparkan empat poin penting terkait fenomena spanduk tersebut:
1. Mendukung Semangat Saring Sebelum Sharing
Sapma Kota Banjar mengapresiasi ajakan untuk melakukan >fact-checking (periksa fakta) sebelum bertindak. Di era banjir informasi, kemampuan berpikir kritis sangat penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi hoaks
Namun, Irwan menegaskan frasa ini jangan sampai disalahgunakan sebagai instrumen untuk menakut-nakuti masyarakat agar tidak ikut serta menyuarakan kebenaran.
2. Menolak Pembungkaman Nalar Kritis Mahasiswa
Narasi 'Waspada Reformasi Jilid 2' tidak boleh dijadikan alat pembungkaman daya kritis. Mahasiswa adalah >agent of change (agen perubahan) dan kontrol sosial yang sah.
Mengemukakan pendapat dan menuntut perbaikan tata kelola pemerintahan, keadilan sosial, serta penegakan hukum adalah >Hak Konstitusional yang Sah.
3. Seruan Menjaga Kondusivitas Kota Banjar
Irwan mengimbau seluruh elemen masyarakat, tokoh pemuda, rekan-rekan mahasiswa, serta aparat penegak hukum untuk bersama-sama menjaga stabilitas keamanan di Kota Banjar.
Ruang publik jangan sampai dipenuhi oleh narasi-narasi jalanan yang memicu polarisasi tidak produktif.
4. Mendorong Transparansi dan Edukasi Politik
Mendesak Pemerintah Kota Banjar dan penyelenggara ketertiban publik untuk memastikan bahwa setiap media informasi yang dipasang di ruang publik memiliki legalitas yang jelas, bersifat mendidik, dan tidak memicu keresahan sosial.
Kritik Harus Dihadapi dengan Edukasi, Bukan Kepanikan
Lebih lanjut, Irwan menyatakan bahwa gerakan moral mahasiswa dan masyarakat sipil adalah pilar penting demokrasi.
Ia sepakat bahwa semua pihak harus tetap waspada terhadap adanya 'penumpang gelap' yang menunggangi gerakan murni, tetapi bukan berarti publik harus alergi terhadap kritik.
"Menyebut narasi perubahan atau koreksi terhadap pemerintah ('Reformasi Jilid 2') sebagai sesuatu yang harus 'diwaspadai' secara membabi buta adalah cara pandang yang keliru," ucapnya.
"Ini menunjukkan adanya kepanikan dari pihak-pihak tertentu yang alergi terhadap kritik konstruktif. Kuncinya adalah edukasi, dialog terbuka, dan komitmen bersama untuk kemajuan Kota Banjar," tambah Irwan.
Di akhir keterangannya, selaku aktivis pemuda, Irwan Herwanto mengajak seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat Kota Banjar untuk tetap tenang, berpikir rasional dan mengedepankan intelektualisme.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah terpancing oleh narasi-narasi visual di jalanan tanpa melakukan kajian yang mendalam terlebih dahulu. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.